Sapaan dan senyum hangat berkembang di bibir para staf yang menyambut kami di pintu masuk. Kami pun segera menyambutnya dengan senyum dan tanpa dapat dihindari lagi pandangan kami menyapu ke seluruh ruangan. Sebuah ruangan yang nyaman dengan dekorasi 'tempo doeloe', dengan foto-foto tua yang menggantung di dinding menjanjikan suasana tempat makan yang tenang. Kursi dan meja makan kayu dengan motif yang unik menjadi daya tarik selanjutnya.
Salah seorang staf menyarankan kami untuk mengambil tempat duduk di lantai atas, tepatnya di sudut ruangan yang memberikan banyak privasi pada kami berdua. Menu pun kemudian hadir di hadapan kami. Tak sabar kami pun memesan menu-menu yang katanya “andalan” resto ini. Saya sendiri memasrahkan masalah menu pada pilihan seorang staf yang langsung menunjukkan menu Asinan Sayoer dan Nasi Kuning yang karena satu dan lain hal berganti menjadi Nasi Hijau. Penyajiannya pun tidak jauh beda dengan menu Nasi Langgi.
Tidak perlu menunggu lama, sajian yang kami tunggu-tunggu datang. Sebagai makanan pembuka, Asinan Sayoer memang tepat menjadi sajian awal. Dengan saus kacang yang kental dan sayur-sayuran yang segar, sajian ini memang terasa menyegarkan di malam hari. Setelah itu, Nasi Hijau pun datang. Dengan wadah yang unik, seporsi Nasi Hijau lengkap dengan lauk pauknya di sekelilingnya begitu menggugah selera. Dan sebagai penyegar, segelas es campur disajikan buat kami berdua. Seperti tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan selama berada di Kembang Goela ini, kami juga memesan Poffertjes dan tape Bakar khas Kembang Goela. Akhirnya kami mengambil kesimpulan, buat saya dan pasangan, sajian makanan ini pas di lidah kami. (Fitri Harini)
